MENANGIS SEBAGAI SUNNAH

Posted on

Menangis“Menangis adalah hal yang manusiawi, semua manusia pasti pernah menangis, seorang preman yang dikenal galak dan brutal sekalipun pasti pernah menangis, apabila menemukan hal yang sangat menggugah jiwa dan perasaannya. untuk itu menangis adalah hal yang biasa. menangis bukan berarti lemah atau tidak berdaya tetapi merupakan ekspresi jiwa sebagai respon atas hal yang terjadi.”

Jangankan manusia biasa, sekelas Nabi Muhammad SAW yang dikenal kuat, tegar dan kerap mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari kalangan musyrikin pernah menangis. padahal nabi merupakan sosok yang tangguh dan perkasa ketika di medan perang karena dengan itulah dia bisa memberikan semangat kepada pasukannya untuk menggempur musuh.

Namun dibalik semuanya itu, beliau terkenal dengan kelembutan hatinya dan mudah menangis ketika melihat hal yang mengganggu nurani atau ketika berdzikir menghadap sang pencipta. Muhammad juga disebutkan sering menangis sampai sesenggukan dalam sholatnya.

Tidak hanya Nabi Muhammad SAW, semua sahabat dan orang – orang yang sholehpun suka menangis. Kita tahu sosok Muhammad al – Fattah yang penakluk Konstantinopel. Dia adalah seorang pemimpin Islam yang sangat perkasa dan tegas sehingga ditakuti dan dihormati oleh bawahanya maupun musuhnya. Namun tak ada yang menyangka kalau beliau ternyata suka menangis sampai tersedu-sedu ketika mengadu kepada Tuhannya di sepertiga malam terakhir.

Al-Fattah sering menangis ketika mengingat dosa-dosanya yang begitu banyak dan merasa dirinya sangat hina. Ia melapiaskan segala kesedihan dan kerisauan hatinya kepada Allah yang Maha Mendengar dan Mengetahui sehingga keesokan hatinya terasa plong. Tak jarang dalam kondisi peeperangan sekalipun, ketika beliau menginap di tenda, di saat prajurit lainnya terlelap dalam tidurnya dia bangun dan  menangis memohon ampunan dan oetunjuk untuk memenangkan peperangan.

Intinya bahwa menangis bukan sebuah pertanda kelemahan jiwa. Sebaliknya menangis jika diniatkan karena ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah sungguh benilai mulia. Dengan tangisan ketika bermunajat dihadapanNya maka mengindikasikan bahwa dirinya sangat mudah tersentuh oleh ayat-ayat suci dengan pemahaman yang mendalam.

BACA JUGA:  Dengki Penghancur Kebaikan

Anehnya, di masa sekarang tak sedikit orang yang menyebut kalau menangis itu merupakan perbuatan bidah. Memangnya seperti apa sebenarnya islam ketika memandang sebuah tangisan ? beberapa ayat menjelaskan tentang pentingnya menangis ketika bersujud kepada Allah.

“Dan mereka bersujud sambil menangis dan maka bertambahlah atas mereka perasaan khusyuk.” (QS. Al-Isra: 109).

Kemudian dalam ayat lainnya juga disebutkan bahwa :
“…Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”

Kemudian didalam banyak hadist juga disebutkan ihwal pentingnya menangis ketika mengingat dan menafakuri ayat-ayat suci Allah.
Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah pernah bersabda kepadanya, “Bacakanlah kepadaku Al-Qur’an”. Akupun menjawab, “Bagaimana aku akan membacakan al-Qur’an kepadamu padahal kepadamulah Al-Qur’an itu telah diturunkan?”. Rasulpun berkata, “Aku suka mendengar Al-Qur’an itu dibaca oleh orang lain”. Maka akupun membacakan surat an-Nisa sampai kepada ayat yang berbunyi fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bi sayhidin waji’na bika ‘ala haaulai syahidan (bagaimana bila kami telah mendatangkan engkau (Rasulullah sebagai saksi atas semua mereka itu?) Rasulullah bersabda, “Cukuplah bacaabnmu itu Ibnu Mas’ud”. Akupun menolah ke arah nabi yang tampak sedang berlinang air matanya”. (HR Bukhori dan Muslim).

Hadist diatas menunjukan betapa Rasulullah sangat mencintai al-Quran. beliau mendengarkan al-Qur’an bukan hanya sebatas mendengarkan melainkan merenungkan dan mentafakuri artinya dengan begitu mendalam. maka lewat permenungan itulah air matanya keluar karena batapa tugasnya begitu berat sebagai saksi umatnya suatu kelak.

Dalam hadist lainnya, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk kedalam neraka seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah sehingga air susu kemabali ke putingnya, dan tidak akan bersatu debu saat berjihad fisabilillah dengan asap neraka jahanam”. (HR. Tarmidzi).

Untuk itu beruntunglah orang-orang yang dapat menangis terutama karena mengingat Allah dan menangisi dosa-dosanya yang begitu banyak. Rasulullah bersabda, “Mata yang beku dan tidak mampu menangis karena hati orang itu sudah keras, dan hati yang keras disebabkan oleh menumpuknya dosa yang telah diperbuatnya. banyaknya dosa yang diperbuat seseorang karena orang itu lupa akan kematiannya yang niscaya, sedangkan lupa mati disebabkan oleh pannjangnya angan-angan. Panjang angan-angan muncul karena disebabkan terlalu cinta pada dunia sedangkan terlalu cinta pada dunia merupakan pangkal dari segala dosa”.

BACA JUGA:  Hari Raya Idul Adha: Harapan Nabi Ibrahim As dan Harapan Kita

Seseorang yang sudah banyak melakukan dosa hidupnya terasa tidak tenang, karena hati kecilnya merasa tidak nyaman atas apa yang dilakukannya, maka solusinya bertaubatlah diiringi rasa penyesalan serta menangislah karena keimanan, dengan begitu hidup ini akan terasa ringan untuk dijalankan karena semua beban dosa yang kita pikul sudah diserakan kepada Allah SWT.

Kita tidak berharap menjadi orang yang tidak bisa menangis karena matanya seolah beku dan air matanya mengering sebab terlalu banyak dosa yang kita perbuat.

Sumber :

Abu Ali al-Bikhal. Ayat-ayat motivasi.

Penyusun :

Wildan Angsuruloh

One thought on “MENANGIS SEBAGAI SUNNAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *