Hari Raya Idul Adha: Harapan Nabi Ibrahim As dan Harapan Kita

Posted on
Harapan Nabi Ibrahim As dan Harapan Kita

Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi, sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci untuk menunaikan Ibadah Haji. Bersamaan dengan ibadah mereka, di sini kita pun melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah haji mereka, yaitu Puasa Hari Arafah, pemotongan hewan qurban, dan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid selama hari tasyrik. Apa yang dilakukan itu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

harapan nabi ibrahim as, harapan kita, hewan qurban mts smk yamsik kuningan, cara menyempurnakan ibadah haji dan umrah, doa nabi ibrahim hasbunallah, doa nabi ibrahim ingin punya anak, doa nabi ibrahim ketika dibakar dalam api, doa nabi ibrahim untuk anaknya, doa nabi sulaiman, doa nabi yunus, happy eid 2016 2017 greetings messages, gambar hari raya idul adha, hari raya haji 2015 2016 2017, hari raya haji greetings, hari raya haji meaning, hari raya haji mom, hari raya haji wikipedia, hari raya idul adha 2016 2017, hari raya idul fitri 2017, hikmah dan hukum qurban, ibadah haji adalah, ibadah qurban, idul adha 2017 jatuh pada tanggal, idul adha muhammadiyah dan nu, isteri nabi ibrahim, kartu ucapan hari raya idul adha, kisah nabi ibrahim dibakar, kisah nabi ibrahim mencari tuhan, kurbaan songs, makam nabi ibrahim, makna hari raya idul adha, makna idul adha, manfaat qurban, mukjizat nabi ibrahim, nabi ibrahim dan raja namrud, pengertian panduan ibadah haji 2017 pdf, pengertian qurban 2017, rukun ibadah haji, sejarah idul adha, sms hari raya idul adha, syarat qurban, tarikh hari raya haji 2016 2017, tarikh hari raya idul adha 2016 2017, tata cara ibadah haji, ucapan hari raya idul adha 2016, ucapan selamat hari raya idul adha 2017
Ibadah Haji dan Qurban tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim As, oleh karena itu sebagai teladan para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim As harus kita pahami untuk selanjutnya kita teladani dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang.

Ada empat Harapan Nabi Ibrahim yang tentu menjadi harapan kita semua yang harus kita diperjuangkan.

Harapan Pertama, harapan atas Nabi Ibrahim As itu sendiri, amat berharap agar dirinya terhindar dari kemusyrikan. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS Ibrahim ayat 35).

Di samping itu, Nabi Ibrahim As juga ingin memperoleh ilmu dan hikmah, sesuatu yang amat penting agar kehidupan bisa dijalani dengan mudah dan bermakna. Beliau juga meminta agar termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang shalih, ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi shalih. Hal ini tercermin dalam doa beliau:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Ya tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Asy-Syu’ara’ ayat 83).

Dari doa Nabi Ibrahim di atas, jelas sekali betapa pentingnya menjadi shalih sehingga orang sekaliber Nabi Ibrahim masih saja berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih.

Hal penting lainnya dari harapan Nabi Ibrahim As adalah agar amal-amalnya diterima oleh Allah SWT, termasuk orang yang tunduk dan taubatnya diterima oleh Allah SWT. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya engkaulah yang maha penerima tobat lagi maha penyayang. Firman Allah SWT:

{127} وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
{128} رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
{129} رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

BACA JUGA:  Surat Kecil Untukmu Ukhty

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah ayat 127–129).

Harapan Kedua, adalah harapan atas keluarga, mulai dari orang tua yang beriman dan taat kepada Allah SWT, karenanya beliau pun meluruskan orang tuanya sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan (ingatlah) di waktu ibrahim berkata kepada bapaknya, aazar, “pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS An’am ayat 74).

Selain istrinya yang sudah shalihah, beliau juga ingin agar anak-anaknya menjadi anak shalih, taat kepada Allah SWT dan orang tuanya dengan karakter akhlak yang mulia, ini merupakan sesuatu yang amat mendasar bagi setiap anak. Karenanya beliau berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (QS As-Saffat ayat 100).

Harapan Ketiga, yang merupakan harapan nabi ibrahim adalah terhadap masyarakat agar beriman dan taat kepada Allah swt, bahkan tidak hanya pada masanya, tapi juga generasi berikutnya. Dalam rangka itu, sejak muda nabi Ibrahim telah membuka cakrawala berpikir agar tidak ada kemusyrikan dalam kehidupan masyarakat, Allah SWT berfirman:

{59} قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ {58} فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ {57} وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ
{60} قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim”. Mereka berkata: “kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama ibrahim”. (QS Al Anbiya ayat 57-60).

Dalam konteks sekarang, masyarakat amat membutuhkan dakwah yang mencerahkan, yang menyejukkan hati dan memotivasi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

BACA JUGA:  Keimanan dan Ketauhidan

Harapan Keempat, Nabi Ibrahim, atas negara dan bangsa, yaitu ingin negara ini aman damai dan memperoleh rizki yang cukup dari Allah SWT:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Ya tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “dan kepada orang yang kafir pun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.”(QS Al Baqarah ayat 126).

Apa yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim As ini bila kita ukur dalam konteks negara. Ternyata masih jauh dari harapan, hal ini karena keamanan menjadi sesuatu yang sangat mahal, sementara kesulitan mendapatkan rizki atau makan masih begitu banyak terjadi. Namun kesulitan demi kesulitan masyarakat pada suatu negara dan bangsa ternyata bukan karena Allah tidak menyediakan atau tidak memberikan rizki, tapi karena ketidakadilan dan korupsi yang merajalela. Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk istiqamah atau mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Setiap orang bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan negara dan bangsa yang baik.

Akhirnya, memiliki harapan yang baik tidak cukup hanya dengan berdoa, karena itu kita berjuang bersama agar kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa berada dalam ridha Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *