Peluang Budidaya Mentha (Tanaman Mint)

Posted on

Tahukah anda dari mana rasa pedas menyejukan yang dimiliki permen dan obat-obatan yang sering kita makan? Rasa tersebut berasal dari senyawa kimia yang disebut menthol. Menthol sendiri, atau populer dengan minyak menthol adalah hasil penyulingan daun-daun dan pucuk jenis-jenis tanaman mentha. Memang minyak mentha (terutama pappermint dan cornmint) merupakan minyak asiri yang banyak digunakan untuk industri farmasi dan makanan, antara lain untuk pembuatan pasti gigi, minyak angin, balsem, parfum, kembang gula, obat batu, sampai rokok. Bahkan diperkirakan minyak mentha menempati urutan kedua sebagai penyedap setelah panili. Ini karena bau harum dan rasanya yang khas pedas dan panas namun sejuk menyegarkan. Kebutuhan minyak mentha di Indonesia setiap tahun cukup tinggi, tercatat untuk minyak peppermint saja mencapai 300 ton per tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan itu kita masih tergantung pada suplai negara lain. Keadaan ini tentunya tidaklah menguntungkan. Padahal di dalam negeri sendiri tanaman-tanaman mentha telah dicoba dibudidayakan sejak sebelum Perang Dunia II. Bahkan di daerah dataran tinggi basah di Indonesia dia telah banyak ditemukan. Jika ini dikembangkan bukankah akan menghemat devisa negara yang cukup berarti? Apalagi dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, telah banyak diketahui teknik budidaya dan pasca panen yang dapat mengatasi kendalam pengembangannya. Selain itu hasil-hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan untuk mendapatkan mutu minyak mentha yang lebih baik dan mendekati persyaratan perdagangan Internasional. Peluang pengembangannya pun masih sangat besar. Bayangkan, untuk memenuhi kebutuhan peppermint sebesar 300 ton, bila Mentha piperita di Indonesia mampu mencapai produksi 15 ton/ha, dengan kandungan minyak 0,2 % saja, maka terbuka kesempatan bagi penanaman di areal seluas 10.000 ha.

1. Iklim dan Tanah

Mentha piperita tanaman penghasil peppermint ini secara komersial ditanam di daerah beriklim sedang, antara lain di beberapa negara Eropa, Maroko, Australia, Argentina, dan Amerika Serikat, terutama pada ketinggian 1.200 – 2.100 m dpl. Sedangkan Mentha arvensis tumbuh baik di Jammu dan Uttar Pradesh, India pada ketinggian sampai 1.219 mdpl asalkan suhu udaranya tidak terlalu dingin. Di Jawa Barat penanaman berbagai jenis mentha pada ketinggian 800 mdpl ternyata dapat menghasilkan kandungan minyak mentha yang baik.Mentha paling baik tumbuhnya bila mendapat sinar matahari langsung. Bila ternaungi tunasnya sedikit sekali dan tanaman tidak bercabang, tumbuh meninggi dan daunnya sedikit berwarna hijau tua. Sebaliknya semakin tinggi intensitas cahaya matahari akan semakin tinggi pula produksi minyaknya. Tanaman mentha secara umum juga menghendaki curah hujan yang tinggi (2000 – 4000 mm/tahun) untuk pertumbuhannya, dengan hari hujan rata-rata 150 – 240 hari. Dia juga memberikan hasil yang tinggi dan kualitas minyak yang baik bila dibudidayakan di tanah berpasir, dan ber-pH 5 – 8 dengan pH optimum 6 – 7,5.

2. Bahan Tanam

Penanaman mentha dilakukan dengan menggunakan bahan tanaman yang berasal dari setek stolon atau cabang. Panjang setek tergantung pada jenis tanamannyam, namun berkisar 8 – 10 cm panjangnya. Mentha arvensis misalnya, paling baik ditanam dengan setek sepanjang 8 cm atau lebih, sedangkan Mentha piperita 10 cm. Dapat juga ditanam dengan setek sepanjang dua ruas dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 2,4 D atau auksin + sitokinin. Bahkan dengan perlakuan zat pengatur tumbuh tersebut, dapat dihasilkan panjang batang, jumlah cabang, dan bobot kering daun yang baik.Perbanyakan dapat juga dilakukan lewat kultur jaringan, baik asal batang maupun stolonnya.

BACA JUGA:  Toko Pigura dan Lukisan Kaligrafi di Kuningan Jawa Barat
3. Persiapan Lahan dan Penanaman

peluang budidaya tanaman mint di indonesia

Lahan untuk mentha haruslah gembur dan bebas genangan. Karena itu harus dipilih lokasi yang sistem drainasenya baik. Tanahnya harus diolah dan digemburkan dulu, kemudian dibiarkan selama sekitar 2 minggu. Setelah itu tanah olahan dicampur pupuk kandang 20 – 40 ton / ha dan dibuatkan guludan-guludan setinggi 30 cm dengan lebar dasar 120 cm dan lebar atas 90 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan. Untuk menghindarkan genangan air perlu dibuat saluran pembuangan air yang cukup. Jika lahan telah siap ditanami, lakukan penanaman bahan tanaman pada pagi hari dengan jarak 30 cm x 15 cm, 30 cm x 30 cm, atau 40 cm x 50 cm tergantung jenis tanamannya. Untuk jenis yang sifat menjalarnya tinggi seperti Mentha piperita akan lebih baik bila ditanam dengan jarak lebar, sedangkan Mentha arvensis yang memiliki sifat tumbuh tegak dapat ditanam lebih rapat.

4. Pemupukan dan Penyiangan

Untuk pertumbuhannya yang lebih baik dan produksi terna segarnya yang lebih tinggi kita perlu melakukan pemupukan. Hanya kita tidak cukup mengandalkan pupuk kandang yang telah diberikan sebagai pupuk dasar saja. Kita perlu melakukanpemupukan susulan dengan pupuk buatan seperti 100 – 150 kg NPK per ha atau dengan campuran 150 kg urea, 150 kg DS, dan 150 kg ZK per ha. Selain dengan pemupukan, dapat juga disemprotkan zat perangsang tumbuh seperti GA3 pada konsentrasi 50 ppm. Dengan perlakukan itu produksi daun dapat meningkat sampai 56%. Selain dengan pemupukan, kita juga perlu mengendalikan gulma dan rumput-rumput liar yang mengganggu, sebab gulma dan rumput liar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi dan kualitas tanaman. Malahan utuk hasil produksi yang maksimal, kita mungkin harus sanggup mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk melakukan penyiangan. Lihat saja di India, 70% dari biaya produksi untuk suatu areal pertanaman mentha digunakan untuk mengendalikan gulma. Penyiangan dapat dilakukan dengan mesin asalkan tidak merusak tanaman yang sedang tumbuh. Apabila keadannya tidak memungkinkan, penyiangan dapat dilakukan dengan tangan. Selain itu penggunaan herbisida yang selektif dapat juga digunakan.

5. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama tungau Tetranichus spp merupakan hama penting tanaman mentha, terutama Mentha piperita. Hama ini cukup merugikan karena mengakibatkan daun mentha, salah satu sumber minyak mentha, mengering dan gugur. Jika hal ini dibiarkan tentunya akan mengurangi produksi minyak. Hama ini dapat ditanggulangi dengan menggunakan akarsida, terutama pada musim kemarau. Selain hama, mentha juga cukup rawan penyakit layu yang disebabkan cendawan Rhizoctonia solani. Penyakit ini bahkan diketahui paling merugikan pertanaman mentha di Indonesia. Untuk mengendalikannya perlu dilakukan penyemprotan fungisida, terutama pada musim hujan.

BACA JUGA:  Cara Membibitkan Tanaman Manggis
6. Panen dan Pasca Panen

menanam tanaman mint, bercocok tanam tanaman pepermint, budidaya mint, peppermint herb uses, peppermint herb side effects, peppermint herb plant, growing peppermint herb, peppermint herb recipes, peppermint herb benefits, peppermint herb health benefits, peppermint herb tea

Pada kondisi di Indonesia, panen terna yang paling baik dapat dilakukan apabila tanaman mendekati atau telah mencapai tingkat pertumbuhan vegetatif yang maksimum, yaitu dengan proporsi daun tua lebih banyak. Perlu diingat, makin tua umur panen makin meningkat kadar menthol dan carvon yang dikandungnya. Sebaliknya kandungan metil asetat yang dikandungnya akan cenderung menurun jika umur tanaman makin tua. Akan lebih baik jika setiap mendekati waktu panen dilakukan analisis kadar menthol bebasnya. Bila kadarnya masih di bawah 41% pemanenan dapat ditunda beberapa hari. Namun panen harus segera dilakukan bila kadar menthol mencapai 45% atau lebih. Sebagai patokan, pemanenan dapat dilakukan setelah 17 – 20 minggu penanaman tergantug kepada varietas yang ditanam dan dilakukan dalam jangka waktu enam bulan, dengan interval setiap 2 bulan.

Biasanya produksi terna basah Menta piperita mencapai 20 ton / ha / tahun dan Mentha arvensis 10 – 40 ton / ha / tahun, tergantung kondisi lokasi penanamannya. Yang perlu diperhatikan dalam pengolahan hasil ialah kebersihan dan kemurnian terna yang dipanen serta proses pengolahannya. Pada saat pemanenan, terna harus bebas dari gulma atau tnamaan lain yang tidak diharapkan hasilnya, sedangkan pada terna kering siap suling kadar airnya tidak melebihi 30%. Selain itu pengisian terna kering ke dalam ketel penyulingan harus dibatasi sampai sepertiga isi ketel saja. Dari uji-coba penyulingan yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dengan menggunakan sistem steam boiler, untuk kapasitas bahan kering 100kg per periode penyulingan selama 1,5 jam dengan kecepatan penyulingan 6 liter / jam diperlukan 10,5 liter solar. Bahan bakar sebanyak itu yang dipakai untuk membangkitkan tekanan uap sampai 3 kg / cm2 sebanyak 2 liter dan 8,5 liter sisanya dipakai untuk proses penyulingan terna dengan menjaga atau mengatur tekanan uap yang masuk tetap 1,2 kg/cm2. Rendeman minyak yang diperoleh, untuk Mentha piperita berkisar 0,2 – 0,6% sedang Mentha arvensis berkisar 1,36 – 2,35%. Peluang Budidaya Mentha (Tanaman Mint).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *