Bedanya Pacaran dengan Menikah

Posted on

pacaran jaman sekarang, bercinta, ciuman, cara pacaran, hukum pacaran, pacaran sehat, pacaran islami, pacaran kristen, komik jenaka realita pacaran vs menikah terbuka aslinya deh, komik realita pacaran vs merit, komik jenaka pacaran, komik kocak realita pacaran vs merit, perbedaan pacaran dan setelah menikah, komik pacaran berlebihan, komik pacaran lucu, komik pacaran jaman sekarang
Bedanya Pacaran dengan Menikah

Pacaran, seheboh apapun para pelakon menjalaninya, tetap saja khayal dan pura-pura. Khayal, sebab meski hati, jiwa dan (mungkin) tubuh mereka sudah menyatu, ikatan itu teramat rapuh dan sumir (Mudah goyah). Pura-pura tentu saja, sebab kedua belah pihak dengan sesadar-sadarnya bermanis muka dan merekayasa keindahan yang memabukkan lawan mainnya.

Persoalan timbul manakala si A + si B sama-sama bosan dengan kharisma semu yang terpaksa mereka pancarkan.

Sekian tahun dan musim terikat dalam deru asmara, sudah tandas nafsu dan fantasi mereka kuras, kini tinggallah ampas. Yang manis jadi hambar, yang indah jadi tawar. Itu sisi negatifnya pacaran. Sisi indahnya banyak, tapi sulit diharapkan bisa terus bertahan. Menikah biasanya dianggap sebagai klimaks dari proses pacaran.

Hati sudah mantap menjalani hidup dengan dia, otak dan jiwa sudah hapal watak dan perangainya, sehingga ke depannya bisa diharap anda mudah mengendalikan dan merespons tabiatnya.

Tapi calon mempelai atau mereka yang pacaran membabi buta suka lupa atau sengaja mengabaikan reaksi, perasaan, restu dan dukungan keluarganya (baca: orangtuanya).

“Yang penting kami saling cinta dan sepakat hidup bersama…”
Iya memang saling cinta, tapi apa kalian yakin bisa mentas lepas landas tanpa merepotkan orangtua? Yang menikah bukan cuma kalian berdua. Ayah-ibumu itu kamu sandingkan dengan bapak-emaknya.

Sejarah dan silsilah keluargamu kamu sandingkan dengan sejarah keluarganya. Kalian usahakan atau bahkan paksakan orang tuamu beradaptasi dengan orangtuanya. Kamu berandai-andai bisa menyelaraskan jurang perbedaan yang ada. Orang tuamu yang kelewat alim kau sandingkan dengan orangtua dia yang sekuler. Atau, orang tuamu yang miskin kau paksa menunduk muka dihadapan orangtua dia yang teramat kaya. Dan kau yakin semua akan baik-baik saja.

Kau pikir keluarga kalian bisa sepakat dalam menghadapi aneka pancaroba. Kau lupa bahwa sejarah hidup dan latar belakang manusia mewarnai sikap, ideologi dan gaya hidupnya. Waspadai fakta dan dampak dari kesenjangan ini kalau kau tak ingin menyesal sampai tua.

Menikah itu enak, kalian jadi raja dan ratu sehari. Justru itulah yang jadi masalah: usai pesta resepsi, kau kembali jadi sandera dan sahaya dari keputusanmu sendiri.

BACA JUGA:  Contoh Berbakti Kepada Orang Tua yang Salah!

Bedanya Pacaran dengan MenikahArif Subiyanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *